Sekilas Tentang Perjalanan Mengenal Filsafat
Pada awalnya saya tidak pernah bersinggungan dengan yang namanya filsafat. Baru setelah menginjak bangku kuliah kata filsafat sedikit-demi sedikit mulai terngiang ditelinga melalui berbagai sumber, mulai dari buku bacaan sampai panggung-panggung diskusi. Hingga kemudian disemester ganjil tahun ketiga Ma’had Aly tertulis kata “filsafat” dijadwal mata kuliah. Beberapa kali kami dengarkan penjelasan pengantar filsafat dari dosen, yang ada difikiran tetaplah bahwa filasafat merupakan sesuatu yang rumit, elit atau bahkan terlalu sukar untuk dipelajari oleh otak ala kadarnya seperti penulis.
Tulisan singkat ini hanya sebagai kesan saat berkenalan dengan filsafat. Jadi sangat tidak layak
untuk disebut sebagai pengatar filasafat karena keterbatasan materi yang akan
disampaikan nantinya. Pun sebenarnya penulis kebingungan mengenai tugas yang
disampaikan oleh dosen. Sebagian rekan mengatakan tugasnya adalah menulis
tentang pengantar filsafat. Sebagian yang lain menangkap bahwa tugas filsafat
semester ganjil ini adalah menuliskan pengalaman pribadi dengan filsafat, dari
awal hingga detik waktu tugas itu disampaikan. dan sepanjang pendengaran
panulis saat itu, tugas kami adalah menuliskan apa yang didapat dibangku kuliah
selama semester ganjil hususnya mata kuliah pengantar filsafat dan mungkin juga
mengenai epistemologi sebagai materi terakhir yang disampaikan. entah mana yang
benar, kami hanya berusaha memenuhi tugas sebagai salah satu kewajiban.
Setelah beberapa kali mendengar kata
filasafat, kami merasa sedikit tertarik dengan segala macam isi, materi atau
bahkan debatable-nya. Maka jalan
termudah untuk mulai masuk ke dunia filsafat adalah dengan membaca novel-novel
santai berbau filsafat, seperti beberapa tulisan Joustin Garder. The Shopies
Word adalah salah satunya. Diluar dugaan penulis, ternyata novel yang
diterjemah dengah Dunia Shopie itu tidak semudah novel-novel modern buah karya
Habiburrahman el-Shirazi atau sama sekali tidak memberikan kesan santai dan
tenang sebagaimana Nizami saat menceritakan kisah cinta klasik dari timur, Qais
sigila dan kekasihnya Laila. Joustin mengajak para pembaca agar tidak hanya
sekedar membaca novel dan masuk dalam dunianya, secara tidak langsung ia juga
memaksa pembaca untuk memeras otak agar memahami setiap apa yang sebenarnya
ingin disampaikan. setelah mulai bosan dan jenuh dengan Dunia Shopie, akhirnya
kami rampungkan kisah shopie itu hanya dengan menyaksikannya di film. Bukan
karena kebetulan diangkat ke layar kaca, tapi memang karena malas dan jenuh
untuk menghatamkan novel dengan tebal empat kali kitab Fath al-Muin.
Pengalaman filsafat berikutnya masih
pada novel yang sama buah karya penulis barat ini. Tapi untuk yang ini ternyata
lebih santai dan mudah dipahami. Entah mungkin karena temanya tentang filsafat
alam atau karena terlalu banyak fantasi yang disampaikan ketika mengisahkan
perjalanan malam anak gadis dan malaikat kecil itu. Novel dengan judul "Dunia
Cicelia" tersebut setidaknya mengantarkan kami kedepan pintu gerbang filsafat
secara umum. Pembaca diajak berfikir lebih jauh mengenai eksistensi sesuatu
yang ada hususnya di alam semseta ini. Mulai dari yang tampak dengan indra
seperti batu atau manusia hingga yang kasat mata seperti malaikat, bahkan
mungkin sebenarnya pembaca ingin diajak berpikir mengenai tuhan. Alakullihal, dua novel Joustin beserta
filmnya The Shopies Word menjadi pintu masuk pertama bagi penulis untuk
mengenal lebih jauh mengenai Filsafat. Ditambah lagi sesekali kami mendengarkan
rekaman-rekaman ngaji filsafat Dr. Fahruddin Faiz dengan pembawaan beliau yang
santai dan sangat renyah ditelinga. Sehingga tak jarang kami jumpai ada
beberapa rekan yang menjadikan rekaman pak Faiz itu sebagai pengantar tidur.
Sebelum itu, sebenarnya mengenai
pengantar filasafat beberapa kali telah disinggung oleh dosen mantiq.
Bagaiamana tidak demikian, halaman pertama merupakan materi tentang sejarah perjalanan logika pertama kali. Mau-tidak mau dosen harus memberi
kami wejangan mengenai perjalanan socrates di Athena, plato sebagai murid
kesayangan dan yang lainnya. Ditambah kemudian pemahaman kami mengenai
filasafat cukup menemui titik terang setelah mendapat wejangan di bangku kuliah
filsafat. dosen menjelaskan dengan gamblang dilengkapi dengan keseruan
lelucon-lelucon filsafat yang membuat kami hampir tidak bisa melepas
pendengaran sedikitpun.
Sejauh itu sebenarnya tak banyak yang
kami cerna mengenai filsafat. Sejarah kelahirannya mungkin menjadi materi
paling menarik selain teori-teori berpikir dengan benar yang ditawarkan oleh
ilmu yang lahir di yunani ini. Bagaimana filsafat hadir ditengah-tengah
peradaban yunani yang begitu kental dengan mitologi
dan mitos-nya. Setelah masyarakat
sadar bahwa mitos tidak mampu
memberikan jawaban akan persoalan-persoalan kehidupan, akhirnya logos menjadi pilihan untuk merubah pola
pikir dan jalan hidup agar lebih baik. Kendatipun demikian, pada awalnya
Socrates sebagai orang pertama yang menyuarakan logos begitu dibenci dan dimusuhi oleh penduduk setempat terlebih
oleh pemerintah kota Athena sendiri. Hingga akhirnya ia ditangkap dan hendak
dibunuh dengan cara dipaksa meminum racun atau menghentikan promosi logos-nya disepanjang jalan kota dan
pasar-pasar. Mind side bapak filsafat
itu membuatnya tidak berpikir panjang apakah harus menolak meminum racun untuk
menyelamatkan hidupnya atau malah memilih mengakhiri nafasnya demi membuktikan
bahwa apa yang dia suarakan adalah sesuatu yang besar dan harus benar-benar
diperjuangkan. Tentu ia memilih racun dari pada menghianati pemikirannya
sendiri tanpa harus hawatir apa yang ia perjuangkan akan habis dengan kematian.
Salah satunya adalah karena ia telah menitipkan amanah logos itu pada muridnya Plato.
Kisah kebijaksanaan Socrates tersebut
mengingatkan kami akan sebuah wacana yang mengatakan bahwa al quran pernah
menyinggungnya. Luqman al-Hakim yang kebijaksanaannya dikisahkan langsung oleh
tuhan dalam al-quran pernah diklaim sebagai Socrates. Klaiman itu bermula pada
anggapan bahwa “Luqman al-Hakim” itu bukanlah nama orang melainkan sebuah
julukan saja. Luqman diambil dari
kata laqama-Luqmanan yang artinya
suapan/menyuap atau menelan. Kemudian kata al-Hakim maknanya sendiri adalah
yang bijaksana. Dengan demikian “Luqman al-Hakim” memiliki arti “suapan orang
yang bijaksana” atau orang bijaksana yang menelan (racun) yang tak lain adalah
Socrates.
Memahami makna bijaksana sebagai pangkal
dari akar berpikir filsafat adalah sesuai dengan makna kata filsafat sendiri
secara etimologi. Ia berasal berasal
dari kata “philosophia” (bahasa Yunani), diartikan sebagai ‘mencintai
kebijaksanaan’. Mengenai definisinya sacara istilah terdapat
beberapa filsuf yang menawarkan definisi berbeda. Semisal Plato yang
berpendapat bahwa filsafat adalah mengenai pengetahuan segala yang ada.
Sedangkan menurut Imanuel Kant, Filsafat adalah
ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan.
Selebihnya penulis bisa memastikan bahwa masih banyak definisi filsafat yang
muncul dari olah pikir para filsuf dan ahli filsafat lain yang perlu ditelusuri
lebih lanjut agar lebih memantapkan pemahaman penganai subtansi filsafat.
Untuk menyelam lebih lanjut kedunia
filsafat, pada awalnya ada keganjalan dalam benak kami. Ada tanda tanya kecil
yang diungkit-ungkit sehingga seakan menganggu untuk melangkah lebih jauh.
Pertanyaan itu adalah “Untuk apa anda belajar Filsafat?”. Pertanyaan tak
penting sebenarnya, karena secara spontan pikiran nakal penulis langsung dapat
memberikan jawaban telak tanpa membuka ruang sanggahan: “ya untuk menjawab
ujian mata kuliah filsafat!”. Namun demikian, ternyata belajar filsafat
tidaklah sia-sia. Ilmu yang lahir dari yunani ini menawarkan beberapa hal besar
yang dapat mempengaruhi pola berpikir. Pertama
filsafat merupakan sebuah pengetahuan yang memperjelas segala konsep yang
telah ada, sehingga ia akan menguji apa yang telah kita pahami selama ini atau
yang akan kita serap sebbagai sebuah pengetahuan. Kedua, filsafat akan mengkritisi hal-hal yang perlu untuk dibenahi
atau paling tidak menawarkan konsep yang lebih logis dengan logika yang benar. Ketiga, tidak hanya memperjelas konsep
dan mengkritisi, filsafat juga membangun argumentasi menganai sebuah
pengetahuan dengan pengetahuan pula. Sudah barang tentu dengan metode berpikir
yang benar.
Termasuk yang memprovokasi saya hingga memantapkan pikiran untuk sebuah tekad agar mempelajari filsafat lebih
lanjut adalah mengenai pembahasannya yang sangat menarik. Semisal membahas
tentang sebuah relaita (ontologi) yang didalamnya tercakup tiga komponen; ketuhanan
(theologi), Alam (cosmologi), dan mengenai manusia
(antropologi). Serta pembahasan yang tak kalah seru lainnya yaitu mengenai
“nilai” yang didalamnya membahas bagaimana nilai berdasarkan kebaikan (etika)
dan sebuah nilai berdasakan keindahan (estetika). Bahkan ilmu yang pernah
digeluti oleh al-Ghazali ini juga membahas tentang pengetahuan. Bagaimana
pengetahuan yang benar, cara mengetahui dan barometer kebenaran.
Demikian mungkin yang dapat penulis
sampaikan mengenai rihlah ilmiyah singkat bersama filsafat. Masih banyak yang
harus dipelajari untuk mendalaminya. Tujuan utama setidaknya adalah agar selalu
berpikir dengan benar. Karena menurut Dr.Fahruddi Faiz Filsafat adalah cara
berfikir yang benar dan belajar filsafat sebenarnya adalah belajar berfikir
yang benar. Sepertinya terlalu jauh untuk menjadi pakar filsafat atau filsuf
dengan segala idealismenya. (Sln)
Sukorejo, 01 Desember
2020


No comments:
Post a Comment