ANDA HARUS KENAL! NAMANYA FILSAFAT


Sekilas Tentang Perjalanan Mengenal Filsafat

Pada awalnya saya tidak pernah bersinggungan dengan yang namanya filsafat. Baru setelah menginjak bangku kuliah kata filsafat sedikit-demi sedikit mulai terngiang ditelinga melalui berbagai sumber, mulai dari buku bacaan sampai panggung-panggung diskusi. Hingga kemudian disemester ganjil tahun ketiga Ma’had Aly tertulis kata “filsafat” dijadwal mata kuliah. Beberapa kali kami dengarkan penjelasan pengantar filsafat dari dosen, yang ada difikiran tetaplah bahwa filasafat merupakan sesuatu yang rumit, elit atau bahkan terlalu sukar untuk dipelajari oleh otak ala kadarnya seperti penulis.

Tulisan singkat ini hanya sebagai kesan saat berkenalan dengan filsafat. Jadi sangat tidak layak untuk disebut sebagai pengatar filasafat karena keterbatasan materi yang akan disampaikan nantinya. Pun sebenarnya penulis kebingungan mengenai tugas yang disampaikan oleh dosen. Sebagian rekan mengatakan tugasnya adalah menulis tentang pengantar filsafat. Sebagian yang lain menangkap bahwa tugas filsafat semester ganjil ini adalah menuliskan pengalaman pribadi dengan filsafat, dari awal hingga detik waktu tugas itu disampaikan. dan sepanjang pendengaran panulis saat itu, tugas kami adalah menuliskan apa yang didapat dibangku kuliah selama semester ganjil hususnya mata kuliah pengantar filsafat dan mungkin juga mengenai epistemologi sebagai materi terakhir yang disampaikan. entah mana yang benar, kami hanya berusaha memenuhi tugas sebagai salah satu kewajiban.

Setelah beberapa kali mendengar kata filasafat, kami merasa sedikit tertarik dengan segala macam isi, materi atau bahkan debatable-nya. Maka jalan termudah untuk mulai masuk ke dunia filsafat adalah dengan membaca novel-novel santai berbau filsafat, seperti beberapa tulisan Joustin Garder. The Shopies Word adalah salah satunya. Diluar dugaan penulis, ternyata novel yang diterjemah dengah Dunia Shopie itu tidak semudah novel-novel modern buah karya Habiburrahman el-Shirazi atau sama sekali tidak memberikan kesan santai dan tenang sebagaimana Nizami saat menceritakan kisah cinta klasik dari timur, Qais sigila dan kekasihnya Laila. Joustin mengajak para pembaca agar tidak hanya sekedar membaca novel dan masuk dalam dunianya, secara tidak langsung ia juga memaksa pembaca untuk memeras otak agar memahami setiap apa yang sebenarnya ingin disampaikan. setelah mulai bosan dan jenuh dengan Dunia Shopie, akhirnya kami rampungkan kisah shopie itu hanya dengan menyaksikannya di film. Bukan karena kebetulan diangkat ke layar kaca, tapi memang karena malas dan jenuh untuk menghatamkan novel dengan tebal empat kali kitab Fath al-Muin.

Pengalaman filsafat berikutnya masih pada novel yang sama buah karya penulis barat ini. Tapi untuk yang ini ternyata lebih santai dan mudah dipahami. Entah mungkin karena temanya tentang filsafat alam atau karena terlalu banyak fantasi yang disampaikan ketika mengisahkan perjalanan malam anak gadis dan malaikat kecil itu. Novel dengan judul "Dunia Cicelia" tersebut setidaknya mengantarkan kami kedepan pintu gerbang filsafat secara umum. Pembaca diajak berfikir lebih jauh mengenai eksistensi sesuatu yang ada hususnya di alam semseta ini. Mulai dari yang tampak dengan indra seperti batu atau manusia hingga yang kasat mata seperti malaikat, bahkan mungkin sebenarnya pembaca ingin diajak berpikir mengenai tuhan. Alakullihal, dua novel Joustin beserta filmnya The Shopies Word menjadi pintu masuk pertama bagi penulis untuk mengenal lebih jauh mengenai Filsafat. Ditambah lagi sesekali kami mendengarkan rekaman-rekaman ngaji filsafat Dr. Fahruddin Faiz dengan pembawaan beliau yang santai dan sangat renyah ditelinga. Sehingga tak jarang kami jumpai ada beberapa rekan yang menjadikan rekaman pak Faiz itu sebagai pengantar tidur.

Sebelum itu, sebenarnya mengenai pengantar filasafat beberapa kali telah disinggung oleh dosen mantiq. Bagaiamana tidak demikian, halaman pertama merupakan materi tentang sejarah perjalanan logika pertama kali. Mau-tidak mau dosen harus memberi kami wejangan mengenai perjalanan socrates di Athena, plato sebagai murid kesayangan dan yang lainnya. Ditambah kemudian pemahaman kami mengenai filasafat cukup menemui titik terang setelah mendapat wejangan di bangku kuliah filsafat. dosen menjelaskan dengan gamblang dilengkapi dengan keseruan lelucon-lelucon filsafat yang membuat kami hampir tidak bisa melepas pendengaran sedikitpun.

Sejauh itu sebenarnya tak banyak yang kami cerna mengenai filsafat. Sejarah kelahirannya mungkin menjadi materi paling menarik selain teori-teori berpikir dengan benar yang ditawarkan oleh ilmu yang lahir di yunani ini. Bagaimana filsafat hadir ditengah-tengah peradaban yunani yang begitu kental dengan mitologi dan mitos-nya. Setelah masyarakat sadar bahwa mitos tidak mampu memberikan jawaban akan persoalan-persoalan kehidupan, akhirnya logos menjadi pilihan untuk merubah pola pikir dan jalan hidup agar lebih baik. Kendatipun demikian, pada awalnya Socrates sebagai orang pertama yang menyuarakan logos begitu dibenci dan dimusuhi oleh penduduk setempat terlebih oleh pemerintah kota Athena sendiri. Hingga akhirnya ia ditangkap dan hendak dibunuh dengan cara dipaksa meminum racun atau menghentikan promosi logos-nya disepanjang jalan kota dan pasar-pasar. Mind side bapak filsafat itu membuatnya tidak berpikir panjang apakah harus menolak meminum racun untuk menyelamatkan hidupnya atau malah memilih mengakhiri nafasnya demi membuktikan bahwa apa yang dia suarakan adalah sesuatu yang besar dan harus benar-benar diperjuangkan. Tentu ia memilih racun dari pada menghianati pemikirannya sendiri tanpa harus hawatir apa yang ia perjuangkan akan habis dengan kematian. Salah satunya adalah karena ia telah menitipkan amanah logos itu pada muridnya Plato.


Kisah kebijaksanaan Socrates tersebut mengingatkan kami akan sebuah wacana yang mengatakan bahwa al quran pernah menyinggungnya. Luqman al-Hakim yang kebijaksanaannya dikisahkan langsung oleh tuhan dalam al-quran pernah diklaim sebagai Socrates. Klaiman itu bermula pada anggapan bahwa “Luqman al-Hakim” itu bukanlah nama orang melainkan sebuah julukan saja. Luqman diambil dari kata laqama-Luqmanan yang artinya suapan/menyuap atau menelan. Kemudian kata al-Hakim maknanya sendiri adalah yang bijaksana. Dengan demikian “Luqman al-Hakim” memiliki arti “suapan orang yang bijaksana” atau orang bijaksana yang menelan (racun) yang tak lain adalah Socrates.

Memahami makna bijaksana sebagai pangkal dari akar berpikir filsafat adalah sesuai dengan makna kata filsafat sendiri secara etimologi. Ia berasal berasal dari kata “philosophia” (bahasa Yunani), diartikan sebagai ‘mencintai kebijaksanaan’. Mengenai definisinya sacara istilah terdapat beberapa filsuf yang menawarkan definisi berbeda. Semisal Plato yang berpendapat bahwa filsafat adalah mengenai pengetahuan segala yang ada. Sedangkan menurut Imanuel Kant, Filsafat adalah ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan. Selebihnya penulis bisa memastikan bahwa masih banyak definisi filsafat yang muncul dari olah pikir para filsuf dan ahli filsafat lain yang perlu ditelusuri lebih lanjut agar lebih memantapkan pemahaman penganai subtansi filsafat.

Untuk menyelam lebih lanjut kedunia filsafat, pada awalnya ada keganjalan dalam benak kami. Ada tanda tanya kecil yang diungkit-ungkit sehingga seakan menganggu untuk melangkah lebih jauh. Pertanyaan itu adalah “Untuk apa anda belajar Filsafat?”. Pertanyaan tak penting sebenarnya, karena secara spontan pikiran nakal penulis langsung dapat memberikan jawaban telak tanpa membuka ruang sanggahan: “ya untuk menjawab ujian mata kuliah filsafat!”. Namun demikian, ternyata belajar filsafat tidaklah sia-sia. Ilmu yang lahir dari yunani ini menawarkan beberapa hal besar yang dapat mempengaruhi pola berpikir. Pertama filsafat merupakan sebuah pengetahuan yang memperjelas segala konsep yang telah ada, sehingga ia akan menguji apa yang telah kita pahami selama ini atau yang akan kita serap sebbagai sebuah pengetahuan. Kedua, filsafat akan mengkritisi hal-hal yang perlu untuk dibenahi atau paling tidak menawarkan konsep yang lebih logis dengan logika yang benar. Ketiga, tidak hanya memperjelas konsep dan mengkritisi, filsafat juga membangun argumentasi menganai sebuah pengetahuan dengan pengetahuan pula. Sudah barang tentu dengan metode berpikir yang benar.

Termasuk yang memprovokasi saya hingga memantapkan pikiran untuk sebuah tekad agar mempelajari filsafat lebih lanjut adalah mengenai pembahasannya yang sangat menarik. Semisal membahas tentang sebuah relaita (ontologi) yang didalamnya tercakup tiga komponen; ketuhanan (theologi), Alam (cosmologi), dan mengenai manusia (antropologi). Serta pembahasan yang tak kalah seru lainnya yaitu mengenai “nilai” yang didalamnya membahas bagaimana nilai berdasarkan kebaikan (etika) dan sebuah nilai berdasakan keindahan (estetika). Bahkan ilmu yang pernah digeluti oleh al-Ghazali ini juga membahas tentang pengetahuan. Bagaimana pengetahuan yang benar, cara mengetahui dan barometer kebenaran.

Demikian mungkin yang dapat penulis sampaikan mengenai rihlah ilmiyah singkat bersama filsafat. Masih banyak yang harus dipelajari untuk mendalaminya. Tujuan utama setidaknya adalah agar selalu berpikir dengan benar. Karena menurut Dr.Fahruddi Faiz Filsafat adalah cara berfikir yang benar dan belajar filsafat sebenarnya adalah belajar berfikir yang benar. Sepertinya terlalu jauh untuk menjadi pakar filsafat atau filsuf dengan segala idealismenya. (Sln)

Sukorejo, 01 Desember 2020

No comments:

Post a Comment