Berbicara mengenai hijrah, beberapa waktu lalu atau mungkin
masih tetap eksis hingga kini, ia tengah ramai diperbincangkan dikalangan
muda-mudi milenial saat ini. Kata hijrah digunakan untuk sebuah tindakan
perubahan secara individu atau bahkan dilakukan secara berkelompok. Perubahan
yang dialakukan adalah dengan maksud agar pribadi atau kelompok tertentu
menjadi lebih baik khususnya dalam segi keberislaman mereka.
Sepintas bukanlah hal yang harus dipermasalahkan, bahkan hal
tersebut perlu diapresiasi lantaran degradasi moral para pemuda kini yang kian
memburuk. Namun setelah dilihat lebih jauh, tindakan yang dilakukan para
muda-mudi hijrah ini tidak murni sebagaimana mestinya. Hijrah hanya menjadi
pembahasan dan kegiatan dunia maya yang ramai peminat. Banyak sekali dijumpai
para muda-mudi yang melakukan aksi hijrahnya hanya karena mengikuti arus topik
media sosial. Hal itu terbukti ketika hijrah sudah tidak lagi menjadi trending
topik, sesorang yang hijrahnya tidak murni tersebut akan kehilangan semangat
atau bahkan menyudahinya.
Diantara bentuk hijrah yang cukup trending adalah dengan
berpenampilan bernuansakan islam semisal menggunakan hijab yang menutup aurat
bagi perempuan, bahkan lengkap dengan cadar yang menutup wajah. Dalam islam,
menutup aurat merupakan kewajiban secara mandiri terhadap setiap umat muslim
baik laki-laki maupun perempuan dengan batasannya masing-masing. Mengenai wajah
perempuan apakah ia termasuk aurat atau tidak, sebenarnya masih terjadi
pereselisihan yuridis hukum islam (fikih). Ada yang mengatakan aurat, dan ada
pula yang berpendapat wajah bukanlah aurat yang wajib ditutupi. Karenanya
dengan bercadar seorang perempuan akan lebih berhati-hati dengan perbedaan
pendapat tersebut.
Seiring tren hijrah tengah ramai, banyak dijumpai
perempuan-perempuan yang mengaku telah hijrah dengan percaya dirinya iya menutup
wajahnya dengan cadar. Secara sepintas baik dilakukan, namun hal itu menjadi
kurang elok didengar ketika perempuan yang telah mengaku hijrah dengan cadarnya
tersebut melepas cadarnya ketika hijrah tidak lagi marak di media. Tampaklah
kemudian bahwa hijrahnya tidak murni ingin memperbaiki diri, melainkan hanya
mengikuti arus media saja. Sesorang dapat dipastikan kemurnian hijrahnya adalah
tatkala ia benar-benar berubah secara sadar tanpa dorongan duniawi semata. Hal
itu terbukti dengan ketekunan dan konsistensinya memperbaiki diri, bukan hanya
pada penampilan fisik dan dzahir namun yang paling penting adalah bagaimana
hati mereka berubah menjadi lebih baik.
Dari sanalah sangat penting kemudian niat dan maksud yang
terdapat dalam hati sesorang, terlebih dalam hal memperbaiki diri. Niat dan
tujuan menjadi perkara yang paling urgen untuk menentukan hasil akhir yang akan
diperoleh. sebagaiamana hadis nabi berikut:
الْعَمَلُ
بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لامْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى
اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ
هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ
إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.(رواه البخاري)
“perbuatan itu tergantung niatnya, dan
hanya saja sesorang akan mendapat sesuai apa yang ia niati, maka barang siapa
yang hijrah karena Allah dan rosul, maka maka (apa yang ia peroleh) dari
hijrahnya adalah (ridho) Allah dan rosul. Dan barang siapa yang hijrahnya untuk
dunia yang ingin ia dapatkan atau perempuan yang ingin dia nikahi, maka
hijrahnya sesuai apa yang ia maksudkan tersebut” (HR.
Bukhari)
Sebab datangnya hadis ini adalah kisah yang cukup masyhur dikalangan para muahaddisin, yang dikenal dengan Muhajir Umy Qays. Ia adalah seorang laki-laki dari kalangan muhajirin yang secara keras disindir oleh nabi lantaran niatnya. Tatkala nabi hijrah ke madinah, ada seorang sahabat perempuan yang juga akan melakukan hijrah bersama nabi dan para sahabat yang lain, ia adalah Umu Qays. Kemudian ada seorang laki-laki yang juga akan mengikuti hijrah. Namun tujuan dan maksud hatinya bukanlah karena Allah dan rosul sebagaimana sahabat yang lain. Laki-laki tersebut menyukai Umu Qays serta ingin meminangnya. Maka ia ikut hijrah demi ummu qays semata. Karenanya ia merugi lantara apa yang ia dapatkan bukanlah ridho Allah dan rosul hanya karena niatnya.
Kisah diatas merupakan sebuah isnpirasi bagi siapapun yang memiliki kinginan untuk melakukan perubahan. Maksud dan tujuan hati merupakan modal utama dan yang paling penting untuk mencapai sebuah hasil. Untuk itu, ketika seseorang melakukan hijrah hanya semata-mata urusan duniawi maka ia hannya akan mendapatkan apa yang ia maksudkan tersebut, atau bahkan tidak mendapatkan hasil sama sekali. Ala kulli hal, hijrah dalam rangka memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik merupakan hal yang perlu mendapatkan apresiasi. Sebagaimana tak lagi asing ditelinga setiap orang bagaimana kebanyakan muda-mudi yang mengalami degradasi moral lantaran kemajuan tekhnologi yang begitu pesat.
Sesuatu yang tak kalah penting lainnya adalah, setiap orang
harus mampu memilah dan memilih segala hal yang akan ia ikuti sebagai pedoman
untuk melakukan perubahan. Banyaknya sumber-sumber keislaman yang tersebar
dengan berbagai bentuk dan media mengharuskan setiap konsumennya mampu
menyaring setiap isi dan subtansinya. Kemajuan tekhnologi saat ini, dengan
mudah setiap orang dapat mencari apa saja yang diinginkan. Informasi dan
asupan-asupan keislaman dapat diperoleh dari berbagai sumber semisal buku,
majalah, bulletin, terlebih media online. Banyaknya minat dan semangat hijrah
terkadang dimanfaatkan oleh oknum tertentu agar mengikuti pemahaman dan aliran
islamnya yang secara subtansial tidak sejalan dengan faham ahlusnnahwal jamaah.
Solusi paling tepat dan satu-satunya sebagai jalan hijrah
terbaik adalah pondok pesantren. Keilmuan islam yang didampingin oleh para kiai
masih terjaga otentitasnya hingga saat ini. Dengan mondok di pesantren setiap
individu akan hijrah dari kebiasaan yang kurang baik menjadi lebih baik dengan
didikan 24 jam dari pesantren. Bukan hanya asupan keilmuan islam yang akan
diperoleh dipondok pesantren, pendidikan moral dan etika merupakan salah
visi-misi utama setiap pondok pesantren. Untuk itu, bagi setiap orang yang
ingin benar-benar hijrah untuk memperbaiki diri maka jalan terbaik adalah
dengan mondok dipondok pesantren.
No comments:
Post a Comment