Siapa yang tak kenal dengan Imam Fakhruddin al-Razi, beliau adalah ulama dengan keluasan ilmu yang luar biasa pada masanya. Tafsir Mafatihul Ghaib (Tafsir al-Kabir) dan al-Mahsul Fi Usul Fiqh nya menggugah seantero jagad keilmuan dunia, disamping karya karyanya yang lain juga.
Suatu ketika beliau hendak melewati sebuah pasar. Beliau berjalan dengan mengendarai unta dengan diiringi banyak pengikutnya, puluhan bahkan ratusan orang.
Tatkala hendak memasuki pasar, ada seorang nenek tua yang seperti menghalangi jalan dengan dagangannya. Tanpa ragu, salah satu pengawal Sang Imam menegurnya, "Wahai nenek, mohon minggir sebentar, Imam Fakhruddin al-Razi akan lewat." Dengan begitu lugunya, nenek itu bertanya kembali, "Ah, siapakah dia, bisa-bisanya menggangu pasar tempat penghidupan kami". Dengan nada yang agak tinggi pemuda murid Imam al-Razi ini berkata, "Tidakkah engkau mengenalnya, ialah sang Imam agung dengan keluasan ilmunya, Ia mampu menjawab 1000 kemusykilan tentang keberadaan Tuhan."
Bukannya menyingkir, si nenek justru dengan cekap menghampiri Sang Imam yang terlihat sangat berwibawa. "Benarkah engkau adalah Imam Razi, yang mampu menjawab 1000 kemusykilan tentang keberadaan Tuhan." "Benar!". Tanpa diduga nenek tersebut menjawab, "Jika engkau mampu menjawab 1000 kemusykilan tentang keberadaan Tuhan, berarti engkau memiliki 1000 kali keraguan tentang Tuhan!" Sontak Imam Rozi tercengang dengan ungkapan sang nenek. Akhirnya beliau menjadi lebih tawadlu' dan rendah hati.
Alhasil, iman yang sesungguhnya adalah bagaimana meyakini tanpa keraguan sedikitpun. Jika seseorang masih dihinggapi tanda tanya terlebih tentang Tuhan, maka silahkan pertanyakan iman yang ada dalam hatinya, sudahkah sempurna atau masih perlu diperbaiki.
Hujjatul Islam al-Ghazali pernah berdoa demikian,
اَللَّهُمَّ ارْزُقْنِي إِيْمَانًا كَإِيْمَانِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ
"Ya Allah, berilah aku rezki iman seperti imannya orang-orang lemah"
Tentu yang dimaksud al-Ghazali adalah Iman sebagaimana imannya orang lemah yang sangat mantap dengan keyakinannya, tidak seperti intelektual terlebih ketika belajar teologi. Betapa banyak konsep-konsep ketuhanan yang dipertanyakan dan diuji kebasahannya oleh para teolog. toh pun menemui kesimpulan benar, tetaplah lebih baik iman mantap tanpa harus sibuk-sibuk membuktikan apa yang diyakini.
Fal Yatadabbar (Mari renungkan bersama) 😌
Kantor Majalah, 18-01-23

No comments:
Post a Comment