Musibah yang dialami umat manusia kini sangat memprihatinkan, tidak hanya mempengaruhi situasi dan kondisi sosial, kegiatan peribadatan ummat juga menjadi korban khususnya ummat islam yang sebagian besar aktifitas keagamaannya dilakukan secara bersama-sama karena prinsip berjama’ah yang sangat mendarah daging. Kesulitan melanda dimana mana, terlebih kegiatan ekonomi yang membuat resah masyarakat dari semua kalangan dan golongan. Entah ini adalah musibah yang menguji manusia untuk nantinya akan datang sebuah anugrah, atau ini adalah murka tuhan karena manusia telah gagal bersyukur atas nikmatn yang telah diberikan selama ini.
Kutipan al-Insyirah; 4-5 adalah ayat sangat masyhur
ditelinga masyarakat mengenai firman yang membahas tentang kesulitan serta
janji tuhan akan kemudahan dibaliknya:
فَاِنَّ
مَعَ الْعُسْرِیُسْرًا۔اِنَّ
مَعَ الْعُسْرِ یُسْرًا
“Sesungguhnya
bersama kesusahan itu ada kemudahan,dan sungguh bersama kesusahan itu ada
kemudahan(QS: Al-Insyirah. 4-5)”
Pemahaman kutipan ayat al insyirah tersebut cukup
menarik jika dikaji lebih mendalam. Misalnya kata عُسْرٌ
yang bermakna kesulitan, dan kata يُسْرٌ
yang bermakna kemudahan diualang dua kali.
Dalam kajian tafsir, tentu hal tersebut memiliki interpretasi yang beragam,
diantaranya ketika dilihat dari sudut linguistik. Kata usr diulang dua
kali dengan menggunakan alif dan lam (ال) atau dikenal dengan istilah al ta’rif (al
yang me-makrifatkan isim nakirah) dengan makna ahd dzikr
(ال لِلعَهْد الذِّكْرِ ) ; al al yang menunjukkan kata ber-al
tersebut adalah satu dzat dengan kata yang sama yang telah disebutkan
sebelumnya.
Maka kalimat kedua yang bermakana kesulitan dalam
al-Insyirah diatas
adalah satu kesatuan dengan kalimat pertama artinya dua ayat tersebut hanya
menyebutkan satu kesulitan sekalipun diucapkan dua kali. Berbeda dengan kalimat
yang bermakna kemudahan, ia diulang dua kali menggunakan lafal nakirah tanpa
al, menunujukkan maksud dari kalimat pertama dan kedua adalah berbeda,
maka terdapat dua kalimat yang bermakna kemudahan. Disisi lain penunjukkan kata
jamak (banyak) dalam bahasa arab masih diperselisihkan apakah minimal
tiga atau dua, setidaknya ada yang mengatakan bahwa kata dua dalam bahasa arab
sudah masuk katagori jamak. Hikmah yang dapat kita petik dari kajian
linguistik tadi adalah dengan satu kesulitan sebenarnya Allah telah menyiapkan
banyak jalan kemudahan sebagai jalan keluar dan balasannya.
No comments:
Post a Comment