SETITIK MAKNA DARI LAUTAN CINTA QAIS & LAILA

 

Dalam literatur klasik ada sebuah kisah dari timur yang familiar, sebuah perjalanan cinta yang luar biasa mengaharukan walaupu berakhir tak menyenangkan. Begitulsh nasib sepasang kekasih yang telah fana’ dalam cinta, qais sang perindu laila telah kehilangan dunianya bahkan telah kehilangan dirinya, yang ada hanya kekasihnya Laila. Begitu juga laila seorang pecinta sejati yang hatinya telah menyatu pada rindunya.

Tak dapat digambarkan bagaimana kekuatan cinta mereka, namun kisah perjalanan cinta ini sebenarnya tidak hanya menampilkan sebuah history masa lalu yang telah banyak dibacakan dari generasi ke generasi. Ada hikmah yang lebih penting dari pada hanya sebuah nilai sejarah yaitu bagaimana memaknai cinta yang sebenarnya. Sebuah hikmah yang mampu mengantarkan seseorang kepada cinta yang sebenarnya, cinta sang pecinta sejati, cinta sang pencipta cinta.

Dalam pengertiannya sendiri, sekaliber ar-Rumy pernah mengatakan bahwa telah beliau ungkapkan apa itu cinta namun kemudian ragu akan keterangannya sendiri tatkala ada didalammya. Setidaknya dapat dikatakan cinta merupakan kecendrungan hati terhadap sesuatu. Yang unik adalah bahwa ia diluar batas kuasa manusia, bagaimana rasa itu bisa hadir menguasai hati. Namun secara akal al-Ghazali memberikan alasan logis penyebab lahirnya cinta bahwa seseorang mencintai suatu hal karena dzat yang dicintai, ini menunujukkan bahwa yang dicintai itu memang layak untuk dicintai semisal ada keistimewaan atau keindahan yang tidak ada pada yang lain.

Diakui atau tidak ketika melihat sebuah keindahan pastilah setiap orang akan merasakan nikmat dan menikmati apa yang terlihat selama masih ada dihadapan. Dari situlah kemudian pecinta tidak ingin kehilangan semua kenikmatan itu, sehingga pada akhirnya ketika telah hanyut dalam kebersamaan secara batin. Ada atau tidaknya kenikamatan yang muncul menjadi tidaklah penting yang terpenting bagaimana ia kembali berjumpa.

Rasionalisasi lahirnya rasa diatas meniscayakan bahwa rasa cinta hanya akan hadir pada benda atau dzat yang bersifat riil atau nyata adanya. Al-ghazaly tidak hanya mendefinisikan sebagaimana diatas. Beliau juga memberikan gambaran bahwa bukan tidak mungkin sesorang mencintai sesuatu yang belum pernah sama sekali dilihat dengan mata kepala. Cukup masuk akal apabila seseorang merindukan sesuatu yang secara lahiriyah belum pernah ada dihadapannya.

Ada beberapa hal yang digambarkan al-ghazaly ketika membahas tentang cinta terhadap sesuatu yang belum pernah dilihat. Cinta seperti demikian ini sangat mungkin terjadi ketika terjadi beberapa hal sebagaimana berikut. Pertama, sesorang tidak pernah melihat sama sekali akan wujud sesuatu yang dicintainya, pun juga tidak pernah terbesit dalam benaknya sebuah imajinasi tentang bentuk dzat tersebut. Kedua, hatinya telah yakin bahwa yang dicintainya memiliki sebuah keindahan yang luar biasa dan akal tidak mempu memberikan gambaran betapa indah ketika dalam tatapannya, sehingga ia tersiksa dalam kerinduan untuk berjumpa dengan yang dicintainya.

Kemudian bukan hal yang mustahil ketika seseorang sudah mabuk dengan merindukan cintanya, ia akan melakukan apa saja hanya karena ingin berjumpa. Sebagaimana tidak sedikit dari para pecinta tuhan yang fana’ ketika hanyut bersamanya dalam sujud, sebaga rasulullah pernah bersabda

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَهُوَ سَاجِدٌ

Posisi hamba dengan allah yang paling dekat adalah ketika hamba itu sujud

Mereka benar-benar merasakan hal itu dan tak ingin berpisah sehingga banyak dari mereka yang ingin berlama lama dan akhirnya kehilangan kesadaran dan menyatu dengan tuhan. Kita para kekasih tuhan tersebut megetahui bahwa ajalnya akan dijemput, maka ia akan sangat bahagia. Alasannya tak lain adalah karena mereka menyadari, tak lama lagi akan berjumpa dengan sang kekasih. Mereka sadar bahwa satu-satunya jalan untuk bertemu dengan yang dirindukan selama ini hanyalah dengan melepaskan diri dari dunia.

Kondisi serupa juga dirasakan oleh majnun –sigila- karena cinta. Tak peduli apa yang terjadi yang terpenting adalah pertemuan dengan sang kekasih, Laila. Tinta Nizami pernah mengukir sebuah momentum luar biasa sang pecinta itu. Suatu ketika qais kehabisan cara bagaimana lagi ia dapat berjumpa dengan  kekasihnya. ia melihat seorang pengembala kambing dapat masuk kedalam komplek rumah Laila. Tanpa piker panjang, qais pun merangkak bersama para kambing itu hanya untuk dapat menemui Laila. Bahkan ia tidak sadar bahwa sang pengembala juga mencambuk dirinya bersama kambing-kambing yang lain.

Begitulah gambaran cinta yang sebenarnya, cinta yang memang benar benar hadir dalam hati tanpa dimotori oleh nafsu. Apapun akan ia lakukan untuk kekasihnya. Apa saja yang diinginkan oleh sang kekasih seakan menjadi keharusan yang dilakukan tanpa memperhatikan hal-hal lain yang telah di anggap tidak penting. Mencintai yang sebenarnya juga mencintai apapun yang dimiliki sang kekasih. Beliau Hujjatul islam juga pernah mengatakan “Ketika seorang mukmin mencintai, niscayalah ia juga akan mencintai anjing kekasihnya.” Ungkapan dengan spirit yang sama juga ini pernah diuntaikan oleh qais ketika mendatangi rumah Laila:

أمر على الديار ديار ليلى ... أقبل ذا الجدار وذا الجدارا

وما حب الديار شغفن قلبي ... ولكن حب من سكن الديارا

Aku berjalan melalui perumahan laila

Aku mencium dinding yang ini dan dinding yang itu

Bukan karena perumahan aku mabuk kepayang

Tapi penghuni rumah yang aku sayang

Dari sini diketahui, mencintai Tuhan sebenarnya juga meniscayakan apa saja yang dimilikinya terlebih para nabi dan rosul serta para waliyullah yang Allah cintai. Hal itu dapat dilihat bagaimana ketika para kekasih tuhan sangat berhati-hati dalam berinteraksi sesama mahluk karena menyadari bahwa semua mahluk adalah milik kekasihnya, tuhan semesta alam.

Begitupun seorang hamba sudah dicintai oleh tuhannya. Allah akan menjaganya dari segala huru hara kehidupan, sebagaimana banyak terjadi kepada para nabi dan waliyullah yang lain. Bahkan tidak jarang Allah memanggil hambanya yang terbaik untuk menemuinya di alam yang lebih baik. Logisnya sebagaimana bunga-bunga di taman, tentulah bunga yang paling elok dan menawan yang akan dipetik terlebih dahulu.

Namun demikian, sebenarnya tuhanlah yang memiliki hak penuh atas hati manusia, rasa yang ada pada hati sesorang tidak dapat divonis salah ketika mencintai pada hal yang tidak selayaknya karena itu adalah pemberian tuhan. Sebagaimana iman dan ingkar yang keduanya merupakan ranah hati serta dalam kuasa tuhan untuk mengantarkan kepada salah satunya. Seorang nabi pembawa risalah pun tidak memiliki hak dan kemampua untuk membuat hati sesorang menjadi iman. Para nabi hanya mendapatkan amanah untuk manyampaikan nilai-nilai keimanan saja. Tentang apakah kemudian apakah kaumnya beriman, hal itu merupakan hak prioritas tuhan. Disinilah dapat disimpulkan hanyalah tuhan yang memberikan rasa pada hati seseorang.

Walhasil, cinta merupakan anugrah tuhan yang patut disyukuri dan diatur sesuai situasi dan kondisi, agar tidak dikuasai hawa nafsu. Dan yang harus benar-benar diperhatikan adalah bagaimana ia tidak menabrak nilai-nilai norma sosial dan agama. Mencintai dan dicintai Tuhan semesta alam memang terkesan mustahil bagi kalangan awam, akan tetapi apakah sesorang akan selalu ada pada level awam. sudah selayaknya setiap hamba menjalani proses sebagaimana salik –orang yang menapaki jalan menuju Allah-; menekuni syariat, kemudian melangkah dalam tarekat dan hingga akhirnya nanti mencapai sebuah mutiara hakikat. Dan tak kalah lebih penting, semua itu hendaknya dilakukan semata mata murni kerena Allah swt, bukan untuk menuju derajat yang lebih tinggi dengan menyingkap tabir hakikat.

Sumber :

1.      - Ihya’ Ulumuddin, Muhammad Bin Muhammad Al Ghazali

2.      - Hilyatul Awliya’ Wa Tabaqotul Ashfiya’, Ahmad Bin Ibrohim Al Mushili

3.      - Laila Majnun, Nizami

 

No comments:

Post a Comment