Obrolan Seputar Indonesia dan Jepang: Antara Pendidikan Matematika dan Etika

Sore tadi, saya dan salah satu dosen Saintek tengah asik menikmati Kopi Kayu Mas dan tak lupa dengan lauknya: obrolan hangat sembari menunggu lantunan merdu kang mamat mengumandangkan adzan maghrib. Beliau cukup kaya dengan pengalaman terutama di Jepang. Pasalnya ia telah 2 kali menginjakkan kaki di Negri Bunga Sakura tersebut dalam rangka mengikuti Lomba Robotik mewakili indonesia.

Tampaknya waktu maghrib masih agak lama, akhirnya kami pun ngobrol ngalur-ngidul tanpa tema dan arah. Salah satu yang kami ghibahkan adalah membandingkan antara pendidikan di indonesia dan jepang. harapanku sih bagaimana indonesia menemani jepang ke piala dunia tahun 2026, bukan membandingkan pendidikan keduanya yang sepertinya baina al-sama' was sumur (antara langit dan sumur).

Beliau awalnya tanya, "Hin, disini kelas berapa diajari matematika?" "Ya mulai kelas dasar pak, bahkan TK sesekali sudah diajari berhitung." Lanjut beliau, seakan sudah tau jawaban saya, "Kalau di jepang itu matematika baru diajarkan di kelas 4 SD." "Wah, iya kah? Kok bisa begitu pak, memang dibawah kelas 4 SD apa yang diajarkan?", jawabku. "Bocil-bocil itu diajari bagaiamana bertahan hidup -karena disana memang rawan gempa-. Sering diajak belanja, beli tiket dll, diajari bagaimana cara mengantri yang baik. dan hal lain yang lebih berguna dan membangun mind side dari pada semisal matematika yang mungkin tak semuanya mencerna dengan baik." Ah, kalau dipikir-pikir mungkin penyebab kenapa aku dan kebanyakan anak waras lainnya membenci matematika, ya ini.

Dengan ekspektasi mencerdaskan anak bangsa yang terlalu tinggi itu, agaknya kurikulum kita melupakan bahwa ada adab diatas ilmu. Sangat jauh dengan jepang yang mendahulukan adab dan etika sosial. Bahkan, dunia sangat terkesan dengan orang-orang Jepang saat pesta Sepak Bola se jagad di Qatar kemarin. Betapa tidak, setelah nonton di tribun stadion mereka langsung membersihkan tempat duduk mereka sebagaimana skuad kesebalasannya di ruang ganti. Sedangkan Indonesia, bisa kita lihat bagaimana Kanjuruhan yang tak lagi berwajah  stadion. Sebagaimana lumayan miris, ketika anak TK di negri kita mendapat jadwal piket bersih-bersih kelas, faktanya yang piket adalah ibu-ibu mereka.

Ala kulli hal Indonesia berada jauh dibawah jepang dalam hal adab dan etika. Fakta masih mencatat bahwa yang mengamalkan al-adab qabla al-ilmi  (etika itu sebelum ilmu) adalah jepang dari pada indonesia dengan mayoritas muslimnya dengan Nabi yang diutus untuk menyempurnakan akhlak (adab).


Pojok Kantor Majalah, 17-01-23

No comments:

Post a Comment