Agama secara etimologi artinya tidak kacau, diambil dari suku kata
a berarti tidak dan gama berarti kacau. Secara lengkapnya, agama adalah
peraturan yang mengatur manusia agar tidak kacau. Menurut maknanya, kata agama
dapat disamakan dengan kata religion (Inggris), religie (Belanda), atau berasal
dari bahasa Latin religio yaitu dari akar kata religare yang berarti mengikat.
Dalam bahasa Arab dikenal dengan kata “dien” yang berarti
menguasai, menundukkan, patuh, hutang, balasan, kebiasaan. Menurut Mehhdi Hairi
Yazdi agama adalah kepercayaan kepada yang mutlak atau kehendak mutlak sebagai
kepedulian tertinggi. Sementara Sutan Takdir Alisyahbana mendefinisikan agama lebih luas
lagi dengan mengatakan agama sebagai suatu sistem kelakuan dan perhubungan yang
pokok pada perhubungan manusia dengan rahasia kekuasaan dan kegaiban yang tiada
terhingga luas dan dalam di sekitarnya. sehingga dengan demikian memberi agama
mampu memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan arti kepada hidupnya dan
kepada alam semesta yang mengelilinginya.
Sedangkan dari para tokoh
pemikir barat seperti Glock dan Stark mendefiniskan agama sebagai sistem
simbol, sistem keyakinan, sistem nilai dan sistem perilaku yang terlembaga yang
dimana hal tersebut terpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai
sesuatu yang paling maknawi (Ultimate Mean Hipotetiking).
Pemikir lainnya dari dunia barat seperti Cliffort Geertz
mengistilahkan agama sebagai; (1) sebuah sistem simbol-simbol yang berlaku untuk
(2) menetapkan suasana hati dan motivasi-motivasi yang kuat, meresapi dan tahan
lama dalam diri manusia dengan (3) merumuskan konsep-konsep mngenai suatu
tatanan umum eksistensi dan (4) membungkus konsep-konsep ini dengan semacam
pacaran faktualitas sehingga (5) suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak
realistis.
Demikian dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa agama
adalah suatu kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan transedental. Agama mampu
menggerakkan manusia dengan isi dan ajarannya yang dapat menjauhkan manusia
dari segala kekacauan yang dibuatnya sendiri dengan hawa nafsu dan
kerakusannya. Kepercayaan terhadap agama ini merupakan salah satu sifat dasar
manusia yang ingin memenuhi kebutuhan akan keselamatan dirinya dari kekacauan.
Oleh karena itu agama menjadi sebuah pedoman hidup yang didasari oleh keyakinan
menjalani kehidupan dan kehidupan setelah kematian.

No comments:
Post a Comment