KARAKTERISTIK DAKWAH ISLAM; ANTARA KETEGASAN DAN KELENTURAN

 


Berbicara tentang dakwah, maka kata dakwah tidak akan lepas dari agama islam. Sedari awal islam adalah agama misionaris yang memiliki misi memperluas ajarannya kepada seluruh umat manusia. Bahkan sang pembawa risalah, Nabi Muhammad SAW menganjurkan setiap umat muslim secara personal untuk melakukan dakwah dalam hal sekecil apapun. Beliau bersabda “sampaikanlah (tentang agama) dariku walaupun hanya satu ayat (Bukhari, Sahih Bukhari).

Dakwah secara bahasa bermakna ajakan atau mengajak. Secara istilah dakwah bermakna sebuah ajakan atau motivasi agar seseorang melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, melakukan amar ma’ruf nahi munkar dan perintah-perintah agama lainnya (Namr Khotib, Mursyid ad-Du’at). Ada yang mengatakn bahwa dakwah adalah sebuah usaha seorang yang pakar agama agar mengajak orang lain mengikuti jejak hidup rosul (Muhamad sidi Ibrahim, ad-da’wah ilallah). Demikian merupakan diantara pengertian dakwah yang dipaparkan oleh ulama, kendatipun dengan varian redaksi namun hampir semuanya memilili makna yang senada.

Secara subtansial, dakwah memiliki tujuan memperkenalkan seseorang terhadap agama yang benar, tuhan yang benar serta jalan hidup yang benar. Maka setiap pendakwah memiliki tugas sebagaimana nabi dahulu ketika menyampaikan pesan-pesan agama. seorang pendakwah harus mengatahui bagaimana cara berdakwah yang benar dan tepat ala Nabi Muhamad SAW. Tujuannya tidak lain adalah agar setiap orang yang mendengarkan dakwahnya dapat menerima dengan senang hati serta tertarik untuk lebih lanjut mempelajari agama islam.

Kendatipun demikian, islam tidaklah menginginkan seseorang memeluk agama islam secara terpaksa, terlebih dipakasa atau bahkan dengan melalui kekerasan. Dalam al-Furqon, Tuhan bersabda “Tidak ada paksaan dalam agama…(QS. Al-Baqarah [2]: 256). Ibn Jarir at-Thabari dalam tafsirnya mengatakan, bahwa ayat ini turun lantaran ada sebagian anak keturunan Sahabat Anshar yang memeluk agama Yahudi dan Nasrani. Akhirnya mereka memaksa anak-anak tersebut untuk memeluk agam islam. Namun tuhan melarang paksaan tersebut dan membiarkan agar memilih antara masuk islam atau tidak. Cukuplah dengan memeberi tahu dan mengajak saja tanpa memaksa apalagi dengan kekerasan (Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an). Dengan ajakan tanpa pakasaan inilah kemudian islam dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Dalam sejarahnya, agama yang terasing dari padang tandus Mekah ini menjadi agama mayoritas ditanah hijaz dan sekitarnya hanya dalam kurun waktu 23 tahun, tidak lain lantaran penyebarannya yang menarik hati. Masih tak lekang oleh waktu, bagaimana kisah tatkala sang nabi datang ke Thaif membawa harapan agar dakwahnya disambut dengan baik, justru beliau disambut dengan lemparan batu oleh penduduknya. Malaikat penjaga gunung pun tidak terima akan hal itu, akhirnya ia menawarkan untuk memusnahkan penduduk Thaif dengan gunung. Kelembutan hati sang nabi ternyata tidak menginginkan demikian. Beliau masih memiliki secercah harapan, barangkali anak keturunan mereka akan lahir muslim-musim yang taat. Yang benar saja, harapan yang diinginkan nabi terkabul lebih dari yang diinginkan. Muhammad Bin Qosim salah satu keturunan bangsa Thaif menjadi pemimpin penyebaran islam ke daerah timur. Teladan oleh baginda nabi merupakan sebuah cerminan betapa dakwahnya tidak semata-mata dengan tujuan menyebarkan ajaran namun juga menebar kasih saying kepada umat.

Terbukti dari namanya saja, Islam adalah agama keselamatan. Pemeluknya, muslim, adalah orang yang berserah diri pada Tuhan. Kaum muslimin (plural dari kata muslim) diajarkan untuk saling menebar doa keselamatan tiap berjumpa Dengan ucapan, “Assalamualaikum; semoga keselamatan menyertaimu. Tidak hanya pada sesama muslim, Islam menggariskan para pemeluknya untuk menjadi penebar kebahagian bagi alam semesta (rahmatan lil alamin). Namun faktanya, sebagian kalangan dari dunia Barat, Amerika dan Eropa, dan sebagian kalangan lain yang biasanya tidak memahami Islam secara baik, memandang Islam tidak secara holistik. Selama ini islam tidak pernah menjadi agama terorisme, islam tidak ambil bagian dalam pembunuhan seorang warga negara yang tengah duduk ditokonya dengan aman, berbelanja ditoko, atau bahkan berjalan dengan tenang di trotoar-trotoar kota. Kendatipun seandainya muslim hidup sebagai minoritas, Islam sama sekali tidak memiliki hubungan dengan fakta bahwa satu-satunya cara yang ditempuh oleh anggota anggota organiasasi jihad agar dapar memperoleh bantuan finansial adalah menyerang toko-toko perhiasan orang koptik, membunuh dan mengambil harta mereka. aksi yang tampak begitu jelas bukan dari ajaran islam itu sangat tidak pantas disematkan terhadap agama islam, dan bahkan dicela oleh semua agama.

Jauh dari aksi diluar batas kemanusiaan tersebut, islam secara prinsip menawarkan agama yang moderat. Agama samawi yang lahir dari 14 abad silam ini berada pada titik tengah antara ketegasan dan kelenturan. Agama yang tegas tatkala menyuarakan yang hak dan yang batil, serta agama yang menjunjung tinggi perdamaian perdamaian toleransi. Beberapa teks-teks agama yang menyatakan demikian banyak dijumpai, baik berupa firman tuhan maupun sabda nabi. Semisal firman Allah, “Dan demikian kami jadikan kalian (umat islam) umat penengah agar kamu menjadi saksi atas seluruh manusia dan agar Rosul menjadi saksi atas kamu…” (QS. Al-Baqarah [2]: 143). Rosul sendiri pernah bersabda, “sebaik-baik persoalan adalah jalan tengahnya (Atsir, Jami’ al-Ushul fi Ahadits ar-Rasul). Senada dengan sabda beliau yang lain, “Dan sebaik-baik amal perbuatan adalah yang tengah-tengah, dan agama Allah itu berada diantara yang beku dan yang mendidih (Shuyuthi, Jami’ al-Ahadits).

Demikianlah agama islam, agama yang moderat; berada pada posisi tengah sebagai salah satu prinsipnya. Dalam hal tersebut misalnya, islam berada dalam posisi tengah. Islam melarang adanya paksaan terlebih kekerasan agar seseorang memeluk agama islam. Namun tidak membiarkan begitu saja seseorang dalam jalan kesesatan. Ajakan yang baik cukuplah menjadi metode dakwah agar seseorang berada dijalan yang benar. Masalah sesorang tercerahkan hatinya atau tidak, hanyalah Allah yang dapat memberikan hidayah. Sebagaimana sabdanya “engkau bukanlah yang dapat memberikan hidayah kepada mereka, melaikan Allah-lah yang memberi hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki…” (QS. Al-Baqarah [2]: 272).

No comments:

Post a Comment